1001054475
Keceriaan Kelas 3 An-Nasr Menjelajahi Dunia melalui Buku

Senin, 31 Agustus 2026, menjadi awal dari sebuah langkah sederhana untuk menumbuhkan kebiasaan membaca di sekolah. Tim Literasi mendistribusikan Jurnal Literasi terbaru kepada para siswa sekaligus meregulasi dan menata kembali buku-buku yang tersedia di Pojok Baca. Buku-buku yang tersusun rapi kini kembali siap menemani siswa menjelajahi berbagai cerita, pengetahuan, dan pengalaman baru melalui kegiatan membaca.

Dua hari kemudian, tepatnya Rabu, 2 September 2026, suasana pagi di Kelas 3 An-Nasr terasa berbeda. Sebelum pembelajaran dimulai, siswa sudah bersiap memilih buku bacaan dari Pojok Baca. Satu per satu buku berpindah ke tangan mereka. Ada yang langsung menemukan bacaan favoritnya, ada pula yang tampak antusias memilih sambil melihat-lihat sampul dan halaman buku.

Bagi anak-anak, memilih buku ternyata bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Mereka diberi ruang untuk menentukan sendiri bacaan yang ingin dibaca. Dari sinilah literasi pagi terasa lebih dekat dengan dunia mereka—tidak sekadar sebuah rutinitas sebelum pelajaran, tetapi menjadi waktu untuk berhenti sejenak, membuka halaman demi halaman, dan menemukan sesuatu yang menarik di dalamnya.

Kehadiran Jurnal Literasi yang baru semakin menambah semangat mereka. Setelah membaca, siswa mulai belajar menuangkan kembali apa yang telah mereka dapatkan dari bacaan. Beberapa di antara mereka bahkan aktif mengangkat tangan dan bertanya tentang cara mengisi jurnal. Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu justru menjadi bagian menarik dari proses belajar karena menunjukkan rasa ingin tahu dan keinginan mereka untuk mengerjakan jurnal dengan baik.

Dengan sabar, guru mendampingi siswa satu per satu. Cara menuliskan informasi dari buku yang telah dibaca dijelaskan secara bertahap dan sederhana. Siswa tidak hanya diarahkan untuk menyalin isi bacaan, tetapi juga belajar memahami informasi dan mengungkapkannya kembali dengan bahasa mereka sendiri. Dari sebuah jurnal sederhana, perlahan tumbuh kebiasaan untuk membaca, memahami, lalu menuliskan kembali.

Semangat itu kemudian berlanjut dalam suasana yang lebih ceria. Senyum dan ekspresi antusias tampak ketika para siswa diajak mengabadikan kegiatan bersama. Buku bacaan dan Jurnal Literasi yang mereka pegang seolah menjadi bagian dari cerita pagi itu. Momen sederhana tersebut menjadi bukti bahwa kegiatan literasi dapat dikemas dengan suasana yang menyenangkan dan dekat dengan keseharian siswa.

Apa yang dilakukan di Kelas 3 An-Nasr mungkin terlihat sederhana: memilih buku, membaca, kemudian menulis di jurnal. Namun, dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti inilah budaya literasi dapat tumbuh. Tim Literasi berharap Pojok Baca dan Jurnal Literasi tidak hanya menjadi fasilitas dan tugas tambahan, melainkan menjadi teman yang menemani perjalanan siswa dalam mengenal dunia melalui buku.

Sebab, kecintaan terhadap membaca tidak selalu tumbuh dari sesuatu yang besar. Ia bisa berawal dari satu buku yang menarik, satu halaman yang membuat penasaran, atau satu cerita yang ingin dibaca sampai selesai. Dari sana, semoga semakin banyak langkah kecil yang membawa siswa menjadi generasi yang gemar membaca, senang belajar, kaya wawasan, dan mampu menjadi generasi literat. 

Membaca bukan sekadar membuka buku. Membaca adalah membuka jendela menuju dunia yang lebih luas.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait