Menguatkan Budaya Literasi Keislaman melalui Khotmil Qur’an dan Kajian Safinatun Najah
Sabtu, 29 Agustus 2026 — Sejumlah ustaz dan ustazah SD Islam Tahfidz Qur’an As-Syafi’iyah kembali melaksanakan kegiatan Khotmil Qur’an sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an sekaligus menumbuhkan semangat belajar dan memperdalam ilmu keislaman. Kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum untuk menyelesaikan bacaan Al-Qur’an, tetapi juga menjadi ruang untuk memperluas wawasan melalui kegiatan literasi keagamaan.
Pada pelaksanaan Khotmil Qur’an kali ini, ustaz dan ustazah melanjutkan kegiatan dengan membaca dan mengkaji kitab Safinatun Najah. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk literasi yang mengajak para pendidik untuk tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga memahami, mendiskusikan, dan mengambil pelajaran dari sumber-sumber keilmuan yang telah diwariskan oleh para ulama terdahulu.
Salah satu pembahasan dalam kajian Safinatun Najah kali ini berkaitan dengan bacaan salawat dalam salat, khususnya mengenai batas minimal membaca salawat serta bacaan yang lebih sempurna dan utama. Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa penyempurnaan bacaan salawat merupakan bagian penting dalam menjaga kesempurnaan ibadah. Salah satu bacaan salawat yang dianjurkan adalah Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Penggunaan kata sayyidina juga menjadi bentuk ta’addub atau adab dalam menyebut Nabi Muhammad SAW.
Dalam bahasa Indonesia, kata sayyid dapat dimaknai sebagai “tuan” atau sapaan penghormatan. Oleh karena itu, penggunaan istilah sayyidina maupun habibina merupakan bentuk penghormatan kepada Rasulullah saw. Kajian juga membahas bacaan salawat yang lebih sempurna dan utama sebagaimana keterangan yang dinisbatkan kepada Imam ar-Ramli.
Pembahasan kemudian berlanjut pada doa setelah tasyahud akhir. Dijelaskan bahwa seseorang disunahkan membaca doa setelah tasyahud akhir sebelum salam. Doa tersebut dapat berisi permohonan berkaitan dengan urusan dunia, akhirat, maupun keduanya, dengan memperhatikan ketentuan penggunaan bahasa Arab dalam konteks doa tersebut.
Adapun doa yang utama setelah tasyahud akhir sebagaimana diterangkan dalam hadis riwayat Imam Muslim adalah memohon perlindungan kepada Allah SWT. dari berbagai perkara yang dapat membawa keburukan. Di antaranya adalah memohon perlindungan dari siksa kubur, siksa neraka, fitnah kehidupan dan kematian, serta fitnah Dajjal. Pembahasan ini menjadi pengingat bahwa salat bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, melainkan juga sarana untuk mendekatkan diri dan memohon perlindungan kepada Allah Swt.
Selain memahami makna bacaan, kajian juga mengingatkan pentingnya ketelitian dalam membaca teks Arab, terutama dalam memperhatikan huruf yang memiliki tanda tasydid. Huruf bertanda tasydid dibaca dengan tekanan atau penggandaan sesuai kaidah bacaannya. Jika tasydid tidak diperhatikan, bacaan dapat mengalami kekurangan pada pelafalan huruf. Hal ini menunjukkan bahwa dalam membaca teks keagamaan, ketelitian menjadi bagian penting yang tidak dapat diabaikan.
Kegiatan Khotmil Qur’an dan literasi kitab ini menjadi gambaran bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, menelaah, dan mengambil hikmah dari bacaan. Membaca kitab-kitab keislaman dapat menjadi sarana untuk memperkaya pengetahuan sekaligus membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat. Semangat literasi inilah yang terus dihidupkan di lingkungan SD Islam Tahfidz Qur’an As-Syafi’iyah, dimulai dari para pendidik yang senantiasa belajar agar dapat menjadi teladan bagi peserta didik.
Melalui kegiatan ini, Khotmil Qur’an tidak hanya menjadi tradisi untuk menjaga interaksi dengan Al-Qur’an, tetapi juga berkembang menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan membaca, memahami, berdiskusi, dan mengamalkan ilmu. Semoga semangat membaca dan mengkaji ilmu tersebut terus tumbuh, sehingga budaya literasi di SD Islam Tahfidz Qur’an As-Syafi’iyah tidak hanya menghasilkan insan yang gemar membaca, tetapi juga pribadi yang mampu memahami ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
